Norwegian Wood – Tamat
It’s been a long time since I update my blog.
I realize that I should have very (I mean VERY) strong commitment to update this blog.
And I decided using Bahasa Indonesia from now on, and maybe my commitment to update this blogger is getting strong. AMIN!!
Oke,,halo smua (^o^)v
Setelah posting mengenai Norwegian Wood – The Movie, dan setelah mencari-cari link film tersebut (dan juga memohon bantuan teman-teman saya untuk membantu mencarinya), akhirnya saya menonton film tersebut.
Yay,,akhirnya “lulus” juga menamatkan Norwegian Wood.
Perlu diperhatikan kalau posting ini bersifat spoiler bagi yang belum menonton filmnya. Dan saya membuat postingan ini bukan bermaksud untuk men-judge film tersebut karena saya hanya ingin sharing pendapat saja ^^
Nah, jujur saja saat saya menonton film ini saya sedikit (oke,banyak) membanding-bandingkan alur dan jalan cerita film ini terhadap novelnya. Baik awal, pertengahan, akhir film, bahkan adegan-adegan yang menurut saya perlu divisualisasikan di film tersebut.
Dimulai dari jalan ceritanya, yang mungkin akan sangat membosankan bagi yang belum membaca ataupun yang sudah membaca novel ini. Jalan cerita untuk film tergolong lambat dan detil, menceritakan awal pertemanan mereka hingga saat-saat pertemuan dan juga ending dari film ini sendiri. Tapi tenang saja karena mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang tertangkap kamera.
Pengembangan karakter pada film ini juga sangat jelas. Seperti untuk tokoh Naoko. Pada novel digambarkan seorang introvert yang depresi ditinggal mati bunuh diri oleh sang kekasih, dan pada film tokoh Naoko memang digamabarkan seorang introvert yang tidak terlalu terlihat depresi (cenderung normal) yang pada akhirnya terdapat tanda-tanda dia mengidap Schizophrenia yang akhirnya bunuh diri karena tidak tahan mengatasi depresinya itu.
Pengembangan tokoh yang lainnya adalah tokoh Midori. Pada novel, Midori digambarkan seorang extrovert, ceria, ceplas ceplos, dan mempunyai daya imajinasi yang tinggi (cenderung jorok dan porno) bahkan Watanabe (tokoh utama) mengibaratkan Midori seperti matahari. Pada film tokoh Midori sedikit berbeda. Disini sifat extrovert Midori digambarkan dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya dalam keadaan normal maupun sedih.
Akhirnya film ini tamat dengan kepuasan tersendiri melihat endingnya yang lebih ”OKE” dan jelas dibanding dengan novelnya.
Pada akhirnya, entah kenapa saya jadi terinspirasi dengan Midori, yang selalu memandang positif segala hal dan tetap tersenyum walopun masalah melanda. Cheers ^.^





